Kamis, 03 Mei 2012
Download Tafsir Ibnu Katsir gratis!!
Jumat, 10 Februari 2012
Senin, 24 Oktober 2011
Tafsir Ayat Kursi (Al-Baqarah : 255)
“Allah tidak ada Ilah melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya, Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Q.s.,al-Baqarah:255)
Keutamaannya
Rasulullah SAW., menginformasikan kepada kita bahwa ayat kursi merupakan ayat yang paling agung di dalam al-Qur’an karena memuat makna-makna tauhid, pengagungan serta keluasan sifat-sifat Allah Ta’ala. (Taysir:91)
Dalil-Dalil Tentang Keutamaannya
1. Hadits dari Ubay bin Ka’b bahwasanya Nabi SAW., berkata kepadanya, “Ayat apa yang paling agung di dalam Kitabullah?.” Dia berkata, “Aku menjawab, Allah dan Rasul-Nya-lah Yang Maha Mengetahui.” Hingga beliau mengulangi pertanyaannya sampai tiga kali, kemudian aku berkata, “Allâhu Lâ ilâha illa huwal Hayyul Qayyûm.” Dia berkata, “Lalu beliau menepuk dadanya sembari berkata, “Semoga ilmumu menjadi ringan, wahai Abul Mundzir!.” (HR.Muslim)
2. Dari Abu Hurairah r.a., dia berkata, “Rasulullah SAW., mengangkatku sebagai wakil untuk menjaga (mengutip) zakat Ramadlan, lalu seseorang datang kepadaku seraya membuang makanan yang ada di tangannya, lantas aku memungutnya sembari berkata, ‘Akan aku laporkan hal ini kepada Rasulullah SAW. Lalu Abu Hurairah menceritakan tentang hadits tersebut, diantara isinya adalah, ‘Beliau bersabda, ‘Bila engkau akan beranjak ke tempat tidurmu, maka bacalah ayat Kursi karena sesungguhnya ia (dapat menjadikanmu) senantiasa mendapatkan penjagaan dari Allah dan syaithan tidak akan mendekatimu hingga pagi hari.’ Lalu Nabi SAW., bersabda kepadanya, “Dia telah berkata jujur padamu padahal seorang pembohong, itulah syaithan.” (HR.al-Bukhari)
Demikian sebagian hadits yang shahih terkait dengan keutamaannya. Sebenarnya banyak sekali dalil-dalil yang terkait dengan keutamaan ayat yang agung ini bahkan beragam karya tulis dikarang mengenai keutamaan dan penafsirannya.
Temanya
Yaitu, mengagungkan Allah, menyinggung perihal bertauhid kepada-Nya dan Qudrat-Nya.
Kapan Dibaca
Dianjurkan membaca ayat Kursi seusai setiap shalat fardlu, ketika akan tidur dan dibaca di dalam rumah untuk mengusir syaithan (sebagaiman telah disinggung di atas).
Ayat agung yang memuat makna-makna paling agung yang mengisi hati dengan rasa takut kepada Allah, terhadap kemuliaan dan kesempurnaan-Nya ini memang berhak untuk menjadi ayat al-Qur’an yang paling agung dan berhak pula mengisi hati pembacanya dengan keyakinan dan keimanan serta mendapatkan pemeliharaan Allah dari syaithan manakala diiringi dengan tadabbur dan pemahaman terhadap maknanya.
Kandungan Ayat Semua ayat ini mengandung faedah, bahkan tiap katanya mengandung banyak sekali faedah. Diantara yang paling penting dan besar adalah:
a. Bahwa ayat Kursi merupakan ayat yang paling agung di dalam Kitabullah secara umum karena ia memuat banyak sekali asma-asma Allah dan sifat-sifat-Nya.
b. Kesempurnaan Qayyûm-Nya, Qudrat-Nya, keluasan kekuasaan dan keagungan-Nya sehingga hal ini mengajak kita untuk mentadabburi dan merenungkannya.
c. Bahwa tidak terselubung dan luput satupun yang tersembunyi di muka bumi ataupun di langit oleh Allah Ta’ala “Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka.” Hal ini mengandung konsekuensi keharusan seorang Muslim untuk menghayatinya di dalam seluruh kehidupannya.
d. Menetapkan adanya syafa’at dan bahwa ia tidak akan dapa diraih kecuali dengan beberapa persyaratan, diantaranya idzin dan ridla-Nya terhadap hal yang disyafa’ati, “Siapakah yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya.”
(SUMBER: Silsilah Manâhij Dawrât al-‘Ulûm asy-Syar’iyyah – Fi`ah an-Nâsyi`ah- karya Dr.Ibrahim bin Sulaiman al-Huwaimil, h. 36-40)
alsofwa.or.id
Tafsir Surat al-'Ashr (Wal 'Ashri)
Demi masa,[1].
Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,[2].
kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.”[3]
Info Umum
Surat ini diturunkan di kota Mekkah dan ayatnya berjumlah 3 ayat
Keutamaannya
Ath-Thabarany meriwayatkan di dalam al-Mu’jam al-Awsath (no.5097) dengan sanadnya dari ‘Abdullah bin Hishn, dia berkata, “Ada dua orang shahabat Rasulullah SAW., yang bila saling bertemu, tidak berpisah kecuali salah satunya membacakan kepada yang lainnya surat al-‘Ashr hingga selesai, kemudian masing-masing saling memberi salam.” Imam asy-Syâfi’iy berkata, “Andaikata manusia hanya mentadabburi (merenungi) surat ini saja, tentu sudah cukup bagi mereka.”
Di dalam surat yang agung ini jelaslah bahwa semua manusia berada dalam kerugian kecuali orang yang memiliki empat kualifikasi, yaitu iman, amal shalih, nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.
Dengan dua hal pertama (iman dan amal shalih), seorang hamba dapat melengkapi dirinya sendiri sedangkan dengan dua hal berikutnya dia dapat melengkapi orang lain dan dengan melengkapi keempat-empatnya, maka jadilah seorang hamba orang yang terhindar dari kerugian dengan meraih keuntungan yang besar. Inilah yang tentunya akan selalu diupayakan oleh seorang insan yang berakal di dalam kehidupannya.
Pesan Moral Surat Ini
1. Bahwa Allah berhak untuk bersumpah dengan makhluk-Nya mana saja yang dikehendaki-Nya sedangkan seorang hamba tidak boleh bersumpah selain dengan (atas nama) Khaliqnya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW., “Barangsiapa yang bersumpah dengan selain Allah, maka dia telah melakukan kekufuran atau berbuat kesyirikan.”
2. Semua manusia berada dalam kerugian kecuali orang yang memiliki empat kualifikasi, yaitu iman, amal shalih, nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.
3. Iman semata yang hampa dari amal, tidak akan berguna bagi pemiliknya.
4. Keutamaan berdakwah kepada Allah Ta’ala dan saling nasehat-menasehati.
5. Keutamaan sabar dengan semua jenis-jenisnya, khususnya terhadap hal yang dialami oleh seorang Muslim sebagai resiko yang harus dihadapinya di dalam berdakwah kepada Rabbnya, baik berupa perkataan, tindakan secara fisik, terhadap hartanya ataupun anaknya.
(SUMBER: Silsilah Manâhij Dawrât asy-Syar’iyyah- at-Tafsîr- Fi`ah an-Nâsyi`ah oleh Dr.Ibrâhim al-Huwaimil, h.47-49)
alsofwa.or.id
Tafsir Surat Al-Fatihah
"Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang,[1].
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam,[2].
Maha Pemurah lagi Maha Penyayang,[3].
Yang menguasai hari pembalasan,[4].
Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan,[5].
Tunjukilah kami jalan yang lurus,[6].
(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat[7]."
Beberapa Penjelasan
A. Status Surat
Surat ini adalah surat Makkiyyah berdasarkan pendapat mayoritas ulama. (Tafsîr al-Baghawiy:1/16; al-Muharrir al-Wajîz:1/61)
B. Nama Surat
Surat ini memiliki nama yang banyak sekali dan ini menunjukkan kemuliaan dan keagungannya, sebab banyak nama menunjukkan kemuliaan si empunya nama itu.
Diantara nama-namanya yang masyhur:
- Fâtihah al-Kitâb
- Ummul Kitâb
- Al-Qur`ân al-'Azhîm
- Ummul Qur`ân
- As-Sab'ul Matsâniy
C. Keutamaannya
Surat ini memiliki keutamaan yang agung dan telah dijelaskan mengenainya oleh banyak hadits, diantaranya:
1. Hadits yang diriwayatkan oleh 'Ubâdah bin ash-Shâmit dari Nabi Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam yang bersabda, "Tidak (sah/sempurna) shalat seorang yang tidak membaca Fâtihah al-Kitab (Pembuka Kitabullah, al-Fâtihah)." (Shahîh al-Jâmi', kitab al-Adzân:1/184)
2. Dari Abu Hurairah radliyallâhu 'anhu, dia berkata, aku telah mendengar Rasulullah Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam bersabda, "Allah Ta'ala berfirman, 'Aku telah membagi shalat antara diri-Ku dan hamba-Ku dengan dua bagian; separuhnya untuk-Ku dan separuhnya lagi untuk hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta.
Bila seorang hamba mengucapkan, 'al-Hamdulillâhi Rabbil 'Alamîn.' Allah Ta'ala menjawab, 'Hamba-Ku telah memuji-Ku.'
Dan bila dia mengucapkan, 'ar-Rahmânir Rahîm.' Allah Ta'ala menjawab, 'Hamba-Ku telah menyanjung-Ku.'
Dan bila dia mengucapkan, 'Mâliki Yawmid Dîn.' Allah Ta'ala menjawab, 'Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku.'
Dan bila dia mengucapkan, 'Iyyâka na'budu wa iyyâka nasta'în.' Allah Ta'ala menjawab, 'Inilah (bagian) yang diantara-Ku dan hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang dimintanya.'
Dan bila dia mengucapkan, 'Ihdinash Shirâthal Mustaqîm Shirâthal Ladzîna An'amta 'alaihim Ghairil Maghdlûbi 'alaihim wa ladl Dlâllîn.' Allah Ta'ala menjawab, 'Inilah yang buat hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang dimintanya." (HR.Muslim)
Dan banyak lagi hadits lainnya yang shahih mengenai keutamaan surat ini.
D. Keutamaan Ucapan " Amîn "
Di dalam kitab Shahîh al-Bukhâriy, terdapat hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah bahwasanya Nabi Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam bersabda, "Bila Imam mengucapkan 'Waladl Dlâllîn', maka katakanlah 'Amîn', sebab siapa saja yang pengaminannya bertepatan dengan pengaminan Malaikat, maka akan diampuni baginya dosa-dosa terdahulu." (HR.al-Bukhâriy)
Sedangkan di dalam Shahîh Muslim, disebutkan, "Bila Imam mengucapkan 'Waladl Dlâllin', maka katakanlah 'Amîn', niscaya Allah akan menjawab (mengabulkan bagi) kamu." (HR.Muslim)
E. Membacanya Di Dalam Shalat
Membaca al-Fâtihah wajib hukumnya bagi setiap Muslim pada setiap raka'at shalat dan tidak dapat diganti dengan membaca terjemahan atau lainnya.
Membacanya adalah termasuk rukun shalat, baik yang fardlu maupun sunnah dan hendaknya bagi makmum pada shalat Jahriyyah (yang dinyaringkan bacaannya), membacanya dengan Sirr (pelan, tidak nyaring).
(Mengenai hukum membaca surat al-Fâtihah dalam shalat ini terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama-red.,)
F. Makna Kalimat
"Alhamdu" artinya sanjungan/pujian atas Allah dengan sifat-sifat kesempurnaan dan sifat-sifat yang memang Dia layak atasnya.
"Lillâhi" artinya Dia-lah Yang dituhankan dan disembah, Yang berhak untuk diesakan di dalam beribadah terhadap-Nya.
"Rabb" artinya al-Murabbi, yaitu al-Mâlik (Pemilik). "Rabb" adalah nama dari nama-nama Allah Ta'ala dan penggunaan kata ini di dalam bahasa Arab untuk selain-Nya hanya dalam bentuk Mudlâf (Majemuk), seperti ungkapan, "Rabbud Dâr" (pemilik/tuan rumah), dan sebagainya.
"al-'Alamîn" artinya semua yang selain Allah (alam semesta)
"ar-Rahmânir Rahîm" yaitu dua nama yang menunjukkan bahwa Dia Ta'ala adalah Pemilik rahmat (Maha pengasih) yang amat luas dan agung.
"Mâliki Yawmid Dîn" yakni hari Kiamat. Dinamakan dengan Yawmud Dîn karena Allah Ta'ala menyuruh mereka beribadah dengan amal-amal mereka; bila baik, maka baik balasannya dan bila buruk, maka buruk balasannya. Dan makna Mâliki Yawmid Dîn adalah bahwa semua perintah itu adalah hanya untuk Allah dan amat tampak sekali secara sempurna bagi para makhluk kesempurnaan kepemilikan-Nya dan terputusnya kepemilikan para makhluk.
"Iyyâka na'budu wa iyyâka nasta'în" yakni kita tidak menyembah kecuali Allah semata dan kita tidak meminta pertolongan kecuali kepada-Nya, sehingga kita mengkhususkannya di dalam beribadah dan meminta pertolongan serta meninggalkan selain-Nya. 'Ibadah adalah sebutan yang mencakup setiap perkataan, perbuatan lahir dan batin yang dicintai Allah dan diridlai-Nya. Sedangkan arti Isti'ânah (minta tolong) adalah berpegang kepada Allah di dalam mendapatkan manfa'at dan menolak hal yang membahayakan disertai kepercayaan terhadap-Nya di dalam mendapatkan hal itu. sedangkan kenapa 'ibadah didahulukan atas Isti'ânah adalah sebagai bentuk perhatian di dalam mendahulukan hak-Nya di atas hak hamba-Nya.
"Ihdinash Shirâthal Mustaqîm" yakni tunjukkan dan berilah kami petunjuk serta taufiq. Ash-Shirâth al-Mustaqîm adalah jalan yang dijelaskan dan menyampaikan kepada Allah, yaitu Islam dan jalan orang-orang yang diberi nikmat kepada mereka, yaitu dari kalangan para Nabi, orang-orang yang jujur, syuhada dan orang-orang yang shalih.
"Ghairil Maghdlûbi 'Alaihim" yaitu orang-orang yang mengenal al-Haq namun meninggalkannya seperti orang-orang Yahudi dan orang-orang yang menyerupai mereka dari kalangan orang-orang yang berilmu namun tidak mengamalkannya.
"Waladl Dlâllîn" , yaitu orang-orang Nashrani dan siapa saja yang menyembah Allah dalam kondisi jahil dan sesat. v "Amîn" , ini tidak termasuk ayat dalam surat al-Fâtihah, maknanya adalah Ya Allah, perkenankanlah. Dianjurkan bagi Imam untuk mengucapkannya, demikian juga dengan Makmum dan orang yang shalat sendirian.
Sekalipun surat ini ringkas namun mengandung hal yang tidak satu suratpun dari surat-surat di dalam al-Qur'an mengandungnya. Ia mengandung jenis-jenis tauhid; tauhid Rubûbiyyah, yaitu pada firman-Nya "Rabbil 'Alamîn"; tauhid Ulûhiyyah, yaitu diambil dari lafazh al-Jalâlah "Allâh" dan dari firman-Nya "Iyyâka Na'budu Wa Iyyâka Nasta'în"; tauhid Asmâ` dan Shifât , yaitu menetapkan sifat-sifat kesempurnaan bagi Allah. Dalam hal ini melalui penetapan pujian terhadap-Nya dan hal lainnya.
G. Kandungan Surat
Penetapan tiga jenis tauhid.
Penetapan kenabian, yaitu pada firman-Nya "Ihdinash Shirâthal Mustaqîm" sebab hal ini tidak mungkin dicapai tanpa adanya risalah (kerasulan).
Penetapan adanya balasan dan hisab terhadap amal-amal, yaitu pada firman-Nya "Mâliki Yawmid Dîn".
Bahwa shalat yang tidak dibaca di dalamnya surat al-Fâtihah dianggap kurang (Khidâj).
Surat ini mengandung doa-doa yang paling komplit dan paling bermanfa'at bagi seorang hamba, yaitu "Ihdinash Shirâthal Mustaqîm". Oleh karena itu, seseorang wajib berdoa kepada Allah pada setiap raka'at dari shalatnya karena dia menghajatkan hal itu.
sumber : Silsilah Manâhij Dawrâh al-'Ulûm asy-Syar'iyyah -at-Tafsîr- karya Dr. Ibrâhim bin Sulaiman al-Huwaimil, h.30-35)
alsofwa.or.id
Sabtu, 01 Oktober 2011
TURUNNYA AL-QUR’AN (NUZULUL QUR’AN) (bagian -2)
Adapun madzhab kedua yang diriwayatkan dari Asy-Sya’bi, dengan dalil-dalil yang shahih dan dapat diterima, tidaklah bertentangan dengan madzhab pertama yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu'anhuma;
Pendapat yang kuat ialah; Al-Qur’an Al-Karim itu diturunkan dua kali:
Pertama: Diturunkan sekligus pada lauhul mahfuzh ke Baitul ‘Izzah di langit dunia.
Kedua: Diturunkan dari langit dunia ke bumi secara berangsur-angsur selama dua puluh tiga tahun.
Imam al-Qurthubi rahimahullah menukil riwayat dari Muqatil bin Hayyan rahimahullah tentang adanya ijma’ akan turunnya al-Qur’an sekaligus dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah di langit dunia. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu'anhuma menafikan adanya kontradiksi antara ketiga ayat di atas berkenaan dengan turunnya al-Qur’an dan fakta kehidupan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Al-Qur’an itu memang turun selama dua puluh tiga tahun di bulan-bulan selain Ramadhan. Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu'anhuma, dia pernah ditanya ‘Athiyyah bin bin al-Aswad, katanya, “Dalam hatiku ada keraguan tentang firman Allah, (yang artinya): ‘Sesungguhnya Kami menurunkannya (al-Qur’an) pada (malam) lailatul qadr’ Padahal al-Qur’an itu ada yang diturunkan pada bulan Syawwal, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, Shafar dan Rabi’ul Awwal.” Ibnu ‘Abbas radhiyallahu'anhuma menjawab:”Al-Qur’an itu diturunkan pada lailatul qadr sekaligus, kemudian diturunkan secara berangsur, sedikit demi sedikit dan terpisah-pisah serta perlahan-lahan di sepanjang bulan dan hari.” (hadits diriwayatkan Ibnu Mardawaih dan al-Baihaqi dalam kitab al-Asma wa ash-Shifat)
Para ulama mengisyaratkan, hikmah dari hal itu ialah demi menyatakan kebesaran al-Qur’an dan kemuliaan orang yang diturunkan kepadanya al-Qur’an (Nabi). Imam as-Suyuthi rahimahullah berkata:”Dikatakan bahwa rahasia diturunkannya al-Qur’an sekaligus ke langit dunia adalah untuk memuliakan orang yang kepadanya al-Qur’an diturunkan; memberitahukan kepada penghuni tujuh langit bahwa al-Qur’an adalah kitab terakhir yang diturunkan kepada Rasul terakhir demi kemuliaan ummat manusia. Kitab itu kini telah di ambang pintu dan akan segera diturunkan kepada mereka. Seandainya tidak ada hikmah Ilahi yang menghendaki disampaikan al-Qur’an kepada mereka secara bertahap sesuai dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi, tentulah ia diturunkan ke bumi sekaligus seperti halnya kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya. Tetapi Allah Subhanahu wa Ta'ala membedakannya dari kitab-kitab yang sebelumnya, maka dijadikannyalah dua ciri tersendiri, diturunkan secara sekaligus, kemudian diturunkan secara bertahap, untuk menghormati orang yang menerimanya.”
As-Sakhawi rahimahullah mengatakan dalam Jamal Al-Qurra’:”Turunnya al-Qur’an ke langit dunia sekligus itu menunjukkan suatu penghormatan kepada Bani Adam (manusia) di hadapan para Malaikat, serta pemberitahuan kepada mereka akan perhatian Allah Subhanahu wa Ta'ala dan rahmat-Nya kepada manusia. Dalam pengertian inilah Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan tujuh puluh ribu Malaikat untuk mengawal surat al-An’am, (sebagaimana diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dan Abu Ubaid dalam Fadha’il Al-Qur’an), dan dalam pengertian ini pula Allah memerintahkan Jibril 'alaihissalam agar mendiktekannya kepada para Malaikat pencatat yang mulia, menuliskan dan membacakannya kepadanya” (Lihat al-Itqan)
Madzhab keempat: Ada juga sebagian ulama yang berpandangan bahwa al-Qur’an turun pertama-tama secara berangsur-angsur ke Lauhul Mahfuzh berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala (yang artinya):”Tidak lain ia adalah al-Qur’an yang mulia, di Lauhul Mahfuzh.” Kemudian setelah itu ia turun dari Lauhul Mahfuzh turun serentak seperti itu ke Baitul Izzah. Selanjutnya, ia turun sedikit demi sedikit. Dengan demikian, ini berarti turun dalam tiga tahap.
Dan, hal ini tidak bertentangan dengan sebelumnya yang telah kami tarjihkan (kuatkan). Bagaimanapun juga al-Qur’an al-Karim sudah ada di Lauhul Mahfuzh meliputi semua urusan ghaib yang sudah ditetapkan di dalamnya. Dan, al-Qur’an turun sekaligus turun dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul Izzah di lagit dunia –sebagaimana riwayat Ibnu Abbas- pada Lailatul Qadr, malam yang penuh berkah di bulan Ramadhan. Sebab, tidak ada yang menghalangi turunnya al-Qur’an langsung sekaligus, dimulai dari turunnya pada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam secara berangsur-angsur dalam satu malam. Dengan demikian, tidak ada pertentangan di antara berbagai pendapat ini jika dikecualikan madzhab yang ketiga yang tidak ada dalilnya.
(Sumber: Pengantar Studi Ilmu al-Qur’an, pustaka al-Kautsar hal 128-130)
TURUNNYA AL-QUR’AN (NUZULUL QUR’AN) (bagian -1)
Turunnya Al-Qur’an secara utuh (sekaligus)
Alllah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam kitab-Nya yang mulia:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ …{185}
” Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)…” (QS. Al-Baqarah:185)
إِنَّآ أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ {3}
” Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” (QS. Ad-Dukhaan: 3)
إنَّآ أَنْزَلْناَهُ فِى لَيْلَةِ الْقَدْرِ {1}
” Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur'an) pada malam kemuliaan (lailatul Qadar).” (QS. Al-Qadar: 1)
Tidak ada kontradiksi antara ketiga ayat di atas, maka malam yang diberkahi adalah malam lailatul qadar di bulan Ramadhan. Hanya saja secara zhahir (seolah-olah) ketiga ayat tersebut bertentangan dengan realitas/kenyataan yang terjadi dalam kehidupan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang mana al-Qur’an turun kepada beliau shallallahu 'alaihi wasallam selama dua puluh tiga (23) tahun.
Madzhab Ulama dalam Masalah ini
Dalam masalah turunnya al-Qur’an para ulama terbagi menjadi dua pendapat yang inti pendapat tersebut adalah sebagai berikut:
Madzhab/Pendapat pertama : Yaitu pendapat yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas dan dianut oleh Jumhur Ulama, bahwa yang dimaksud dengan nuzulul Qur’an (turunnya al-Qur’an) dalam ketiga ayat di atas adalah turunnya secara utuh/sekaligus ke Baitul ‘Izzah di langit dunia sebagai bentuk pengagungan terhadap al-Qur’an di hadapan para Malaikat-Nya. Kemudian diturunkan (secara bertahap) kepada Rasulullah, Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dalam waktu dua puluh tiga tahun sesuai dengan kejadian dan peristiwa-persitiwa yang terjadi semenjak diutusnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sampi beliau wafat, yang mana beliau tinggal di Mekah setelah diutus menjadi Nabi selama tiga belas tahun dan di Madinah setelah hijrah adalah sepuluh tahun. (Sebagian ulama memperkirakan bahwa waktu turunnya al-Qur’an adalah dua puluh tahun, dan yang lain mengatakan dua puluh lima tahun, hal ini dikarenakan perbedaan mereka dalam masalah lama tinggalnya beliau shallallahu 'alaihi wasallam –setelah menjadi Nabi- di Mekah, apakah tiga belas tahun, atau sepuluh tahun, atau lima belas tahun? yang mana mereka bersepakat bahwa tinggalnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam di Madinah setelah hijrah adalah sepuluh tahun. Dan yang tepat adalah pendapat yang pertama (13 tahun), lihat al-Itqon karya Imam as-Suyuthi rahimahullah).
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu'anhuma berkata:
(( بُعِثَ رسول الله صلى الله عليه وسلم لأربعين سنة فمكث بمكة ثلاث غشرة سنة يُوحَى إليه، ثم أُمر بالهجرة عشر سنين ،ومات وهو ابن ثلاث وستين)) ررواه البخاري
”Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam diutus (menjadi Nabi) selama empat puluh tahun, maka beliau tinggal di Mekah selama tiga belas tahun dan diturunkan kepada beliau wahyu, kemudian diperintah untuk hijrah (dan tinggal di Madinah) sepuluh tahun dan beliau meninggal sedangkan umur beliau enam puluh tiga tahun.” (HR. Imam al-Bukhari).
Dan pendapat ini adalah pendapat yang berdasar pada riwayat-riwayat yang shahih dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu'anhuma dalam beberapa riwayat di antaranya :
1. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu'anhuma berkata:”Al-Qur’an diturunkan sekaligus (secara utuh) ke langit dunia pada malam lailatul qadar, kemudian setelah itu diturunkan (secara bertahap) selama dua puluh tahun. Lalu beliau membaca:
وَلاَيَأْتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلاَّجِئْنَاكَ بِالْحَقِّ وَأَحْسَنَ تَفْسِيرًا {33}
” Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu perumpamaan, melainkan Kami datangkan kepadamu sesuatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya.”(QS. Al-Furqoon: 33)
وَقُرْءَانًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنزِيلاً {106}
” Dan al-Qur'an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.” (QS. Al-Israa’: 106). (HR. Imam al-Hakim dan al-Baihaqi rahimahumallah)
2 .Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu'anhuma berkata:”Al-Qur’an dipisahkan dari Adz-Dzikr, lalu dia diletakkan di Baitul ‘Izzah di langit dunia, lalu Jibril 'alaihissalam memulai menurunkannya (secara bertahap) kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. ”(HR. Imam al-Hakim rahimahullah)
3 .Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu'anhuma berkata:”Al-Qur’an diturunkan sekaligus ke langit dunia secara gradual. Lalu, Allah Subhanahu wa Ta'ala menurunkannya kepada Rasul-Nya bagian demi bagian.” (HR. Imam al-Hakim dan al-Baihaqi rahimahumallah)
4 . Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu'anhuma berkata:”Al-Qur’an diturunkan pada malam lailatul Qadar pada bulan Ramadhan sekaligus, lalu diturunkan secara bertahap.”(HR. Imam ath-Thabrani rahimahullah)
Madzhab/Pendapat kedua :Yaitu yang diriwayatkan dari asy-Sya’bi rahimahullah bahwa yang dimaksud dengan turunnya al-Qur’an pada tiga ayat di atas adalah permulaan turunnya al-Qur’an adalah pada malam lailatul Qodar di bulan Ramadhan, yang malam itu merupakan malam yang diberkahi, kemudian sesudah itu turun secara bertahap sesuai dengan peristiwa dan kejadian yang mengiringinya selama dua puluh tiga tahun. Dengan demikian, maka al-Qur’an hanya memiliki satu macam cara turun kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, yaitu turun secara bertahap, karena inilah yang dinyatakan oleh al-Qur’an:
وَقُرْءَانًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنزِيلاً {106}
” Dan al-Qur'an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.” (QS. Al-Israa’: 106).
Dan kaum musyrikin yang diberitahu bahwa kitab-kitab samawi terdahulu diturunkan sekaligus mendebat dalam masalah ini dengan berkata:
وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلاَ نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْءَانُ جُمْلَةً وَاحِدَةً كَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلاً {32} وَلاَيَأْتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلاَّجِئْنَاكَ بِالْحَقِّ وَأَحْسَنَ تَفْسِيرًا {33}
” Berkatalah orang-orang kafir:"Mengapa al-Qur'an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?"; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (teratur dan benar). Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu perumpamaan, melainkan Kami datangkan kepadamu sesuatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya. .”(QS. Al-Furqoon: 32-33)
Keistimewaan bulan Ramadhan dan lailatul Qodar yang merupakan malam penuh berkah tidak akan tampak kecuali kalau yang dimaksudkan dengan tiga ayat di atas adalah turunnya al-Qur’an kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan ini sesuai dengan apa ada dalam firman Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam perang Badar:
… وَمَآأَنزَلْنَا عَلَى عَبْدِنَا يَوْمَ الْفُرْقَانِ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ وَاللهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ {41}
”…Dan (beriman) kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Anfaal: 41)
Perang Badar terjadi pada bulan Ramadhan, dan hal ini diperkuat pula dengan apa yang diyakini oleh para ulama muhaqiq (peneliti) dalam hadits tentang permulaan turunnya wahyu, dari ‘Aisyah radhiyallahu'anhuma:
أول ما بدئ به رسول الله - صلى الله عليه وسلم - من الوحي الرؤيا الصادقة في النوم ، فكان لا يرى رؤيا إلا جاءت مثل فلق الصبح ، ثم حبب إليه الخلاء ، فكان يخلو بغار حراء فيتحنث فيه الليالي ذوات العدد إلى أهله ، ويتزود لذلك ، ثم يرجع إلى خديجة فتزوده لمثلها ، حتى فاجأه الحق ، وهو في غار حراء ، فجاءه الملك ، فقال : اقرأ . فقال : " ما أنا بقارئ " . قال : " فأخذني فغطني حتى بلغ مني الجهد ، ثم أرسلني ، فقال : اقرأ . فقلت : ما أنا بقارئ . فأخذني ، فغطني الثانية حتى بلغ مني الجهد ، ثم أرسلني فقال : اقرأ . فقلت : " ما أنا بقارئ فأخذني فغطني الثالثة حتى بلغ مني الجهد ، ثم أرسلني ، فقال : اقرأ باسم ربك الذي خلق خلق الإنسان من علق اقرأ وربك الأكرم الذي علم بالقلم علم الإنسان ما لم يعلم [ العلق : 1-5 ]
" Permulaan wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah mimpi yang benar di dalam tidur. Beliau tidaklah bermimpi melainkan akan menjadi kenyataan seperti terangnya cahaya subuh. Kemudian beliau senang menyendiri. Beliau sering menyendiri di Gua Hira dan beribadah di sana, yakni beribadah beberapa malam, kemudian kembali kepada keluarga beliau, dan mengambil bekal untuk itu. Kemudian beliau pulang kepada Khadijah dan mengambil bekal seperti itu pula, maka datanglah kepada beliau kebenaran ketika beliau ada di Gua Hira, datanglah malaikat seraya berkata, 'Bacalah!' Beliau berkata, 'Sungguh saya tidak dapat membaca. Ia mengambil dan mendekap saya sehingga saya lelah. Kemudian ia melepaskan saya, lalu ia berkata, 'Bacalah!' Maka, saya berkata, 'Sungguh saya tidak dapat membaca:' Lalu ia mengambil dan mendekap saya yang kedua kalinya, kemudian ia melepaskan saya, lalu ia berkata, 'Bacalah!' Maka, saya berkata, 'Sungguh saya tidak bisa membaca' Lalu ia mengambil dan mendekap saya yang ketiga kalinya, kemudian ia melepaskan saya. Lalu ia membacakan, "Iqra' bismi rabbikalladzi khalaq. Khalaqal insaana min'alaq. Iqra' warabbukal akram. Alladzii 'allama bil qalam. 'Allamal insaana maa lam ya'lam.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Maka sesungguhnya para Muhaqiq dari kalangan pensyarah (yang menjelaskan makna) hadits menyatakan bahwa Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam diangkat menjadi Nabi dengan mendapatkan mimpi yang benar pada bulan lahirnya yaitu Rabi’ul Awwal dalam masa enam bulan.Kemudian diwahyukan kepada beliau dalam kondisi sadar pada bulan Ramadhan dengan firmannya:”اقرأ”. dengan demikian nash-nash tersebut menunjukkan pada satu makna. (Bersambung Insayaa Allah….)
(Sumber :”Mabahits fii ‘Ulumil Qur’an” karya Syaikh Manna' al-Qaththan cet. Maktabah al-Ma’arif, Riyadh hal 100-103 diterjemahkan oleh Abu Yusuf Sujono)
وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللهِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ سَمِيعٌ عَلِيمُُ {244} مَّن ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًاكَثِيرَةً وَاللهُ يَقْبِضُ وَيَبْصُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ {245}
"Dan berperanglah kamu sekalian di jalan Allah, dan ketahuilah sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rizki), dan kepadaNyalah kamu dikembalikan." (Al-Baqarah : 244-245).
Tafsir Ayat : 244-245
Allah Ta’ala telah menggabungkan antara perintah berperang di jalanNya dengan harta dan anggota badan (jiwa), karena jihad itu tidaklah akan tegak kecuali dengan kedua perkara tersebut. Lalu Allah menganjurkan untuk ikhlas dalam melakukannya yaitu seorang hamba berperang hanya untuk meninggikan kalimat Allah, karena sesungguhnya Allah, { سَمِيعٌ } "Maha Mendengar" segala perkataan walaupun tersembunyi, { عَلِيمٌ } "lagi Maha Mengetahui" dengan segala hal yang diliputi hati dari niat yang baik ataupun lawannya. Dan juga bila seorang mujahid di jalan Allah mengetahui bahwasanya Allah itu Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, pastilah perkara jihad itu akan remeh dalam pandangannya dan ia mengetahui bahwa dengan dirinya sendiri orang-orang yang tegar sekalipun tidak dapat bersabar untuk jihad dan bahwa pastilah mereka harus dibantu dengan pertolonganNya dan kelembutanNya.
Perhatikanlah anjuran yang lembut ini untuk bernafkah, dan bahwasanya orang yang menafkahkan hartanya sesungguhnya Allah yang Maha Kaya lagi Maha Mulia telah meminjamkan dan menjanjikan baginya berlipat ganda yang melimpah sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,
مَّثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّاْئَةُ حَبَّةٍ وَاللهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَآءُ وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ {261}
"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui." (Al-Baqarah; 261)
Ketika penghalang terbesar untuk berinfak adalah takut kemiskinan, Allah Ta’ala mengabarkan bahwa kekayaan dan kemiskinan itu berada di tangan Allah, dan bahwa Dia menahan rizki dari siapa yang dikehendakiNya dan memberikannya kepada siapa yang dikehendakiNya, maka janganlah terlambat wahai orang yang hendak berinfak karena takut akan kemiskinan, dan janganlah ia berfikir bahwa hartanya itu hilang begitu saja, namun tempat kembali seluruh hamba adalah kepada Allah, lalu orang-orang yang berinfak dan beramal akan mendapatkan pahala mereka tersimpan disisiNya untuk suatu kebutuhan yang paling mereka butuhkan dan memiliki kepentingan begitu besar yang tidak mungkin dapat diungkapkan oleh kata-kata.
Maksud dari pinjaman yang baik adalah perkara yang menyatukan segala sifat dan ciri kebajikan dari niat yang shalih, kelapangan dada dalam berinfak dan tepat sasarannya dan orang yang berinfak itu tidak mengiringinya dengan mengungkit-ungkitnya dan tidak pula perkataan yang menyakitkan, tidak membatalkannya dan tidak pula menguranginya.
Pelajaran dari Ayat :
Dalam ayat tersebut menjelaskan tentang perintah memerangi orang-orang kafir; dan hal itu bisa dihukumi fardhu ‘ain, atau fardhu kifayah, atau mustahab tergantung apa yang ditetapkan oleh para ulama.
Perintah berperang tersebut, adalah diwujudkan dengan penuh ikhlas kepada Allah Ta’ala, dengan tujuan menegakkan kalimatullah menjadi mulia dan tinggi.
Bahwa haram bagi manusia berperang demi suku atau kelompoknya, atau karena agar dianggap pemberani, atau riya’ (ingin dipuji manusia); karena wajibnya ikhlas dalam berperang tersebut mengandung makna haramnya berperang demi tujuan dunia atau selain ikhlas kepada Allah, kecuali jika dia membela diri sendiri maka hal itu hukumnya mubah bahkan dapat menjadi wajib.
Lalu jika ditanya: bagamana jikalau dia berperang demi membela negerinya karena negerinya adalah negeri Islam, sehingga ia berperang dalam rangka membela negerinya karena sebab tersebut; apakah ia dianggap berperang di jalan Allah..? maka (Syaikh Utsaimin rahimahullah) menjawab : Ia benar; karena niatnya adalah agar tidak terpecah atau terpisah antara negerinya dan lainnya apabila hal itu dalam rangka melindungi Islam.”
Di dalam berjihad fi sabilillah wajib bagi seseorang untuk menerapkan dan berjalan di atas rel dan ketentuan-ketentuan syariat, mentaati amir (pemimpin), bersabar ketika berjumpa musuh, memperlakukan tawanan dengan baik, dan lain sebagainya.
Ancaman dan peringatan dari menyelisihi syariat Allah; sebagaimana kandungan ayat, “dan ketahuilah sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui..” ; bahwa terkandung dalam ayat ini agar kita waspada dari menyelisihi syariat Allah Ta’ala; karena Allah adalah maha mendengar ucapan-ucapan kita dan mengetahui keadaan kita.
Perintah dan anjuran berbuat sesuai dengan syariat; karena hal tersebut tidaklah akan luput dari pengawasan Allah Ta’ala.
Adanya penetapan dua nama bagi Allah yaitu As-Samii’, dan Al-‘Aliim, dan apa-apa yang terkandung di dalamnya berupa hukum dan sifat-sifat bagiNya.
Ayat tersebut di atas menjelaskan anjuran berinfak di jalan Allah ‘Azza wa Jalla. Pertanyaan ( Man Dzalladzii…) di ayat tersebut adalah berfaidah makna anjuran dan motivasi.
Bahwa pahala (balasan) terhadap suatu amalan adalah terjamin, sebagaimana jaminan hutang bagi yang menghutangi.
Perhatian terhadap ikhlas dalam beramal, yaitu hendaknya seseorang menginfakkan hartanya hanya bagi Allah ‘Azza wa Jalla dengan cara ikhlas, atas dasar suka rela, dari harta yang halal, dan tidak menyertai dalam infaknya (sedekahnya) tersebut dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima); sebagaimana ayat di atas, “pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah)”. Dan ‘Pinjaman yang baik’ adalah apa yang sesuai dengan syariat, yaitu memenuhi hal-hal berikut:
Pertama; Ikhlas karena Allah Ta’ala, maka jika dilakukan dengan riya’, sum’ah maka pinjaman tersebut bukan pinjaman yang baik, sebagaimana disebutkan dalam hadits Qudsi, “Barang siapa yang melakukan suatu amalan yang ia menyekutukan di dalam amal tersebut bersamaKu dengan selain Aku, maka Aku tinggalkan ia beserta sekutunya..” (Muslim, no. 2985, dan Ibnu Majah, no. 4202).
Kedua; Dari harta yang halal, maka jika berasal dari harta yang haram maka bukan termasuk pinjaman yang baik, karena Allah Ta’ala Maha Baik dan tidak menerima kecuali sesuatu yang baik.
]Ketiga; Dengan suka rela dan hati yang senang; dan bukan terpaksa, tidak pula berkeyakinan hal itu adalah sebuah pajak atau denda yang harus diberikan, sebagaimana persangkaan sebagian orang yang mengira bahwa zakat adalah pajak, hingga sebagian penulis (zakat) mengungkapkan dengan ungkapan ‘Pajak zakat’ wal ‘iyadzu billah.
Keempat; Diberikan sesuai dengan tempatnya (yang di perintahkan oleh Allah), yaitu dengan menyedekahkan kepada para fuqoro’, dan orang-orang miskin, atau untuk kemashlahatan orang banyak; adapun jika diinfakkan kepada sesuatu yang dimurkai oleh Allah maka hal itu bukanlah termasuk ‘pinjaman yang baik’.
Kelima; Hendaknya tidak menyertai sedekah yang diberikan dengan mengungkit-ngungkitnya, dan menyakiti perasaan penerima. Maka jika seseorang menyertai amal baiknya dengan ‘mengungkit-ngungkit dan menyakiti perasaan penerima’ maka batal (hilanglah) pahala amalan baiknya tersebut, Allah Ta’ala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian…”( al-Baqarah : 264)
Bahwa karunia Allah Ta’ala dan pemberianNya adalah sangatlah luas, dan balasan bagi orang yang berbuat kebaikan adalah balasan yang berupa karunia kebaikan dariNya; sebagaimana firmanNya, “maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak.” Disamping bahwa taufiq Allah Ta’ala bagi seseorang untuk beramal shalih adalah merupakan karunia dariNya, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada orang-orang faqir dari kalangan anshor ketika mereka menyebutkan keutamaan orang-orang kaya dalam bersedekah dan memerdekakan budak, “Demikian itulah karunia Allah yang diberikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki… ” (Muslim, no. 1347); maka dengan demikian bahwa bagi seorang hamba yang diberikan taufiq untuk beramal dengan amal yang shalih maka baginya mendapat dua karunia: karunia yang datang terlebih dahulu yaitu diberikannya taufiq untuk melakukan amal shalih, dan karunia yang kedua yang datang mengikutinya yaitu berupa pahala atasnya dengan berlipat ganda. Adapun balasan bagi ahli maksiat maka berkisar antara keadilan dan karuniaNya; jika maksiatnya berupa kekufuran maka balasannya dari keadilannya dan jika maksiat tersebut lebih ringan dari kekufuran maka balasannya berkisar dari karunia dan keadilannya; Allah Ta’ala berfirman, artinya, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendakiNya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisaa’ : 48)
Kesempurnaan rububiyyah Allah ‘Azza wa Jalla, sebagaimana ayat, “Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rizki)...”
Dalam ayat di atas terdapat isyarat bahwa mengeluarkan infak atau sodaqah bukanlah sebab seseorang menjadi faqir dan kekurangan; karena penyebutan kalimat ini “Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rizki)”, setelah anjuran untuk berinfak, ini mengisyaratkan bahwa berinfak tidaklah menyebabkan seseorang menjadi tidak memiliki apa-apa atau dalam kesempitan; karena segala urusan adalah di tangan Allah subhanahu wata’ala; sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Tidaklah sodaqah mengurangi harta..” (Muslim, no. 6592). Berapa banyak manusia yang menahan hartanya dan tidak menginfakkan harta tersebut di jalan Allah, maka Allah menguasakan atas hartanya penyakit atau musibah seperti kehilangan, kebakaran, dicuri, dirampok dan yang semisalnya; atau penyakit-penyakit yang menimpa pemilik harta tersebut pada badannya atau keluarganya sehingga membutuhkan biaya yang besar untuk menyembuhkannya; dan disisi lain seseorang yang mensedekahkan hartanya dan menginfakkan hartanya di jalan Allah maka Allah luaskan rizki baginya.
Penetapan adanya hari kiamat dan hari kebangkitan; sebagaimana ayat, “dan kepadaNyalah kamu dikembalikan.".
Peringatan dan ancaman bagi seorang hamba dari menyelisihi perintah Allah, dan anjuran agar mentaatiNya, sebagaimana ayat tersebut di atas, “dan kepadaNyalah kamu dikembalikan."; karena seorang insan apabila mengetahui bahwa dia akan kembali kepada Rabbnya maka niscaya dia tidak boleh tidak harus melakukan apa yang diperintahkan kepadanya dan meninggalkan apa-apa yang dilarang, karena merasa takut ketika kembalinya kepada Rabbnya tersebut (dimana ia harus mempertanggungjawabkan apa yang ia lakukan ketika hidup di Dunia). Wallahu a’lam
Di kumpulkan dan diposting oleh : Abu Thalhah Andri Abdul Halim
Sumber :
1. Taisir al-Karim ar-Rahman (tafsir as-Sa’di)
2. Aisar Tafasir oleh Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi, Maktabah al-Ulum wa al-Hikmah
3. Tafsir al-Quran al-Karim oleh Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin, Dar Ibnul Jauzi.
TAFSIR AYAT KURSI (AYAT 255 SURAT AL-BAQARAH) bagian-1
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ (255)
”Allah tidak ada Ilah melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Al-Baqarah: 255)
Keutamaan Ayat Kursi
Ayat ke 255 dari surat al-Baqarah ini dikenal dengan ayat al-Kursi, karena di dalamnya disebutkan tentang Kursi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Ayat ini memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam dan ia juga memiliki keutamaan-keutamaan yang banyak. Banyak hadits, baik yang shahih maupun hasan yang menjelaskan tentang keutamaan ayat yang mulia ini. Di antara keutamaan-keutamaan ayat yang mulai ini adalah sebagai berikut:
Ayat Kursi adalah Benteng Bagi Pembacanya
Imam Al-Bukhari rahimahullah dalam kitab Shahihnya meriwayatkan hadits dengan sanadnya dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, beliau berkata:
وَكَّلَنِى النَّبِىّ، عليه السَّلام، بِحِفْظِ زَكَاةِ رَمَضَانَ، فَأَتَانِى آتٍ، فَجَعَلَ يَحْثُو مِنَ الطَّعَامِ فَأَخَذْتُهُ، وَقُلْتُ: وَاللَّهِ لأرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - ، قَالَ: إِنِّى مُحْتَاجٌ ولىَّ عِيَالٌ، وَبِى حَاجَةٌ شَدِيدَةٌ، قَالَ: فَخَلَّيْتُ عَنْهُ، فأَصْبَحتُ، النَّبىُّ فقال: « يَا أَبَا هُرَيْرَةَ، مَا فَعَلَ أَسِيرُكَ الْبَارِحَةَ » ؟ قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، شَكَا حَاجَةً شَدِيدَةً وَعِيَالاً، فَرَحِمْتُهُ فَخَلَّيْتُ سَبِيلَهُ، قَالَ: « أَمَا إِنَّهُ قَدْ كَذَبَكَ، وَسَيَعُودُ » ، فَعَرَفْتُ أَنَّهُ سَيَعُودُ لِقَوْلِ رَسُولِ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - إِنَّهُ سَيَعُودُ، فَرَصَدْتُهُ، فَجَاءَ يَحْثُو مِنَ الطَّعَامِ، فَأَخَذْتُهُ، فَقُلْتُ: لاَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - ، قَالَ: دَعْنِى فَإِنِّى مُحْتَاجٌ، وَعَلَىَّ عِيَالٌ لاَ أَعُودُ، فَرَحِمْتُهُ، فَخَلَّيْتُ سَبِيلَهُ، فَأَصْبَحْتُ، فَقَالَ لِى النَّبىِّ: « يَا أَبَا هُرَيْرَةَ، مَا فَعَلَ أَسِيرُكَ؟ » قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، شَكَا حَاجَةً شَدِيدَةً وَعِيَالاً، فَرَحِمْتُهُ، فَخَلَّيْتُ سَبِيلَهُ، قَالَ: « أَمَا إِنَّهُ قَدْ كَذَبَكَ، وَسَيَعُودُ »، فَرَصَدْتُهُ الثَّالِثَةَ، فَجَاءَ يَحْثُو مِنَ الطَّعَامِ، فَأَخَذْتُهُ، فَقُلْتُ: لاَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ، وَهَذَا آخِرُ ثَلاَثِ مَرَّاتٍ تزعم أَنَّكَ لاَ تَعُودُ، ثُمَّ تَعُودُ، قَالَ: دَعْنِى أُعَلِّمْكَ كَلِمَاتٍ يَنْفَعُكَ اللَّهُ بِهَا، قُلْتُ: مَا هِىَ؟ قَالَ: إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِىِّ، )) الله لا إله إلا هو الحي القيوم(( حتى تختم الآية، فَإِنَّكَ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ، وَلاَ يَقْرَبَنَّكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ، فَخَلَّيْتُ سَبِيلَهُ فَأَصْبَحْتُ، فَقَالَ لِى النَّبىِّ عَلَيِه السَّلاَم: « مَا فَعَلَ أَسِيرُكَ » ؟ قُلْتُ: زَعَمَ أَنَّهُ يُعَلِّمُنِى كَلِمَاتٍ يَنْفَعُنِى اللَّهُ بِهَا، فَخَلَّيْتُ سَبِيلَهُ، وَكَانُوا أَحْرَصَ شَىْءٍ عَلَى الْخَيْرِ، وحكيت له القول، فَقَالَ النَّبىُّ - صلى الله عليه وسلم - : « أَمَا إِنَّهُ قَدْ صَدَقَكَ، وَهُوَ كَذُوبٌ تعلم من تخاطب منذ ثلاث ليال يا أبا هريرة). قال: لا، قال: « ذَاكَ شَيْطَانٌ » .
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mewakilkan kepadaku (menugaskanku) untuk menjaga zakat Ramadhan (zakat Fithri), lalu ada yang mendatangiku (untuk mencuri). Kemudian mulailah ia mengambil makanan dengan kedua telapak tangannya, maka aku tangkap dia dan aku berkata:”Demi Allah, sungguh akan aku laporkan engkau kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.” Ia berkata”Sesungguhnya aku memiliki kelurga yang harus dinafkahi dan aku juga memiliki hajat (kebutuhan) yang mendesak.” Abu Hurairah berkata:”Maka aku melepaskannya.” Ketika waktu pagi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata kepadaku:”Wahai Abu Hurairah, apa yang dilakukan tawananmu semalam?” Abu Hurairah berkata, aku menjawab:”Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, ia mengadukan tentang kebutuhannya yang mendesak, dan keluarganya yang harus dinafkahi, lalu aku kasihan kepadanya dan aku lepaskan dia.” Beliau berkata:i]”Sesungguhnya ia telah membohongimu dan ia akan kembali.” Maka akupun mengetahui kalau ia (pencuri itu) akan datang kembali berdasarkan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwa ia akan kembali. Maka aku mengawasinya (mengintainya). Lalu datanglah pencuri itu mengambil makanan. Lalu aku menangkapnya dan berkata kepadanya:”Sungguh aku akan melaporkanmu kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.” Ia berkata”Lepaskan aku, Sesungguhnya aku ini butuh (makanan), dan aku memiliki kelurga yang harus dinafkahi. Aku tidak akan kembali lagi.” Maka akupun kasihan kepadanya dan melepaskannya. Maka di waktu pagi hari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata kepadaku:”Wahai Abu Hurairah, apa yang dilakukan tawananmu semalam?” Abu Hurairah berkata, aku menjawab:”Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, ia mengadukan tentang kebutuhannya yang mendesak, dan keluarganya yang harus dinafkahi, lalu aku kasihan kepadanya dan aku lepaskan dia.” Beliau berkata:”Sesungguhnya ia telah membohongimu dan ia akan kembali.” Maka akupun mengintainya untuk ketiga kalinya, lalu ia datang kembali mengambil makanan, lalu akupun menangkapnya dan aku berkata:”Sungguh aku akan melaporkanmu kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Dan ini adalah yang ketiga kalinya engkau berkata untuk tidak akan kembali (mengulangi mencuri), namun engkaupun kembali.” Ia pun berkata:”Biarkanlah aku mengajarimu dengan suatu kalimat, yang dengannya Allah memberikan manfaat kepadamu?” Aku pun berkata:”Apa itu?” Ia berkata:”Jika engkau hendak tidur, bacalah ayat Kursi, (Allah, tiada Ilah selain Dia Yang Mahahidup dan Maha Berdiri sendiri) sampai akhir ayat, maka senantiasa engkau berada dalam lindungan Allah, setan tidak akan mendekatimu (untuk menganggu) sampai waktu pagi.” Maka aku pun melepaskan dia. Memasuki waktu pagi hari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata kepadaku:”Apa yang dilakukan tawananmu?” Aku menjawab:”Ia mengira bahwa ia telah mengajariku dengan suatu kalimat, yang dengannya Allah memberikan manfaat kepadaku maka aku pun melepaskannya.” –Dan mereka (para Shahabat) adalah orang yang paling antusias terhadap kebaikan dan aku sampaikan kisah itu kepadanya- Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:”Sesungguhnya ia telah jujur kepadamu, padahal dia adalah sangat pendusta, tahukah engkau, siapa yang sengkau ajak bicara semenjak tiga malam yang lalu wahai Abu Hurairah?” Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata:”Tidak tahu.” Beliau shallallahu 'alaihi wasallam menjawab:”Itu adalah setan.”
Hadits ini dirwayatkan oleh Imamal-Bukhari dalam Shahihnya, kitab al-Wakalah, bab 10 Idza Wakkala Rajulan Fataraka al-Wakiilu Syai’an fa Ajaazahu al-Muwakkil Fahuwa Ja’izun hadits no.2311, Fathul Bari 4/568 diriwayatkan pula dalam Shahihnya kitab Bad’il Khalqi, bab Shifatul Iblis wa Junudihi no. 3275 (6/386).
Kisah serupa juga terjadi pada Muadz bin Jabal radhiyallahu 'anhu, hadits ini diriwayatkan oleh Imam ath-Thabrani rahimahullah dari gurunya (Syaikhnya), Yahya bin ‘Utsman bin Shalih dengan sanadnya (bersambung) sampai ke Buraidah rahimahullah, sebagaimana yang tercantum dalam al-Mu’jam al-Kabir, yang teksnya sebagai berikut:
عن بريدة قَالَ: بَلَغَنِي أَنَّ مُعَاذَ بن جَبَلٍ، أَخَذَ الشَّيْطَانَ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَتَيْتُهُ، فَقُلْتُ: بَلَغَنِي أَنَّكَ أَخَذْتَ الشَّيْطَانَ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: نَعَمْ، ضَمَّ إِلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَمْرَ الصَّدَقَةِ، فَجَعَلْتُهُ فِي غُرْفَةٍ لِي، فَكُنْتُ أَجِدُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ نُقْصَانًا، فَشَكَوْتُ ذَلِكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ لِي:"هُوَ عَمِلُ الشَّيْطَانِ، فَارْصُدْهُ"، فَرَصَدْتُهُ لَيْلا، فَلَمَّا ذَهَبَ هَوِيٌّ مِنَ اللَّيْلِ أَقْبَلَ عَلَى صُورَةِ الْفِيلِ، فَلَمَّا انْتَهَى إِلَى الْبَابِ دَخَلَ مِنْ خَلَلِ الْبَابِ عَلَى غَيْرِ صُورَتِهِ، فَدَنَا مِنَ التَّمْرِ، فَجَعَلَ يَلْتَقِمُهُ، فَشَدَدْتُ عَلِيَّ ثِيَابِي فَتَوَسَّطتُّهُ، فَقُلْتُ: أَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ يَا عَدُوَّ اللَّهِ، وَثَبْتَ إِلَى تَمْرِ الصَّدَقَةِ، فَأَخَذْتَهُ، وَكَانُوا أَحَقَّ بِهِ مِنْكَ، لأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَيَفْضَحَكَ، فَعَاهَدَنِي أَنْ لا يَعُودَ، فَغَدَوْتُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ لِي:"مَا فَعَلَ أَسِيرُكَ؟"قُلْتُ: عَاهَدَنِي أَنْ لا يَعُودَ، قَالَ:"إِنَّهُ عَائِدٌ فَارْصُدْهُ"، فَرَصَدْتُهُ اللَّيْلَةَ الثَّانِيَةَ، فَصَنَعَ مِثْلَ ذَلِكَ وَصَنَعَتُ مِثْلَ ذَلِكَ، وَعَاهَدَنِي أَنْ لا يَعُودَ، فَخَلَّيْتُ سَبِيلَهُ، ثُمَّ غَدَوْتُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لأُخْبِرَهُ، فَإِذَا مُنَادِيهِ يُنَادِي: أَيْنَ مُعَاذٌ؟ فَقَالَ لِي:"يَا مُعَاذُ مَا فَعَلَ أَسِيرُكَ؟"فَأَخْبَرْتُهُ، فَقَالَ:"إِنَّهُ عَائِدٌ فَارْصُدْهُ"، فَرَصَدْتُهُ اللَّيْلَةَ الثَّالِثَةَ، فَصَنَعَ مِثْلَ ذَلِكَ، وَصَنَعَتُ بِهِ مِثْلَ ذَلِكَ، وَقُلْتُ: يَا عَدُوَّ اللَّهِ، عَاهَدْتَنِي مَرَّتَيْنِ، وَهَذِهِ الثَّالِثَةُ، لأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ، فَيَفْضَحَكَ، فَقَالَ: إِنِّي شَيْطَانٌ ذُو عِيَالٌ، وَمَا أَتَيْتُكَ إِلا مِنْ نَصِيبِينَ، وَلَوْ أَصَبْتُ شَيْئًا دُونَهُ مَا أَتَيْتُكَ، وَلَقَدْ كُنَّا فِي مَدِينَتِكُمْ هَذِهِ حَتَّى بُعِثَ صَاحِبُكُمْ، فَلَمَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِ آيَتَانِ أَنْفَرَتَنَا مِنْهَا، فَوَقَعْنَا بنصِيبِينَ، لا تُقْرَآنِ فِي بَيْتٍ إِلا لَمْ يَلِجْ فِيهِ الشَّيْطَانُ ثَلاثًا، فَإِنْ خَلَّيْتَ سَبِيلِي عَلَّمْتَكَهُمَا، قُلْتُ: نَعَمْ، قَالَ: آيَةُ الْكُرْسِيِّ، وَآخَرُ سُورَةِ الْبَقَرَةِ مِنْ قَوْلِهِ:"آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ"[البقرة آية 285] إِلَى آخِرِهَا، فَخَلَّيْتُ سَبِيلَهُ، ثُمَّ غَدَوْتُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لأُخْبِرَهُ، فَإِذَا مُنَادِيهِ يُنَادِي:"أَيْنَ مُعَاذُ بن جَبَلٍ؟"فَلَمَّا دَخَلْتُ عَلَيْهِ قَالَ لِي:"مَا فَعَلَ أَسِيرُكَ؟"فَقُلْتُ: عَاهَدَنِي أَنْ لا يَعُودَ، فَأَخْبَرْتُهُ بِمَا قَالَ، فَقَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:"صَدَقَ الْخَبِيثُ وَهُوَ كَذُوبٌ، قَالَ: فَكُنْتُ اقْرَأُهُمَا عَلَيْهِ بَعْدَ ذَلِكَ فَلا أَجِدُ فِيهِ نُقْصَانًا"
Dari Buraidah berkata, telah sampai (kabar) kepadaku bahwa Mu’adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu menangkap setan pada zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Maka aku pun mendatanginya, lalu aku berkata:”Telah sampai kepadaku kabar bahwa engkau pernah menangkap setan di zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam?” Mu’adz radhiyallahu 'anhu menjawab:”Benar. Dahulu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengumpulkan kurma zakat kepadaku, maka akupun menempatkannya (menyimpannya) di kamarku. Namun aku mendapati kurma itu berkurang setiap hari. Lalu aku pun mengadukan hal itu kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam” Lalu beliau shallallahu 'alaihi wasallam berkata kepadaku:”Itu adalah perbuatan (ulah) setan.” Lalu aku pun mengintainya pada malam harinya. Ketika sebagian malam telah berlalu, datanglah ia (pencuri) dalam bentuk gajah. Ketika ia sampai di pintu, ia masuk lewat celah pintu dalam bentuk yang berbeda dengan bentuk yang semula. Lalu ia mendekati kurma dan mulai memakannya. Maka aku pun mengencangkan bagian atas bajuku, dan menjadikannya di tengah-tengah badanku. Maka aku berkata:”Asyhadu Allaa Ilaaha Illallaahu wa Anna Muhammadan ‘Abduhu wa Rasuuluhu, wahai Musuh Allah!, Engkau melompat ke atas kurma zakat, lalu engkau mengambilnya. Padahal mereka (orang-orang berhak menerima zakat) lebih berhak darimu. Sungguh aku akan melaporkanmu kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, lalu beliau membongkar kedokmu.” Lalu ia pun berjanji kepadaku untuk tidak mengulanginya. Maka pagi harinya aku mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, lalu beliau berkata kepadaku:”Apa yang dilakukan tawananmu semalam?” Aku berkata:”Ia berjanji kepadaku untuk tidak kembali lagi.” Nabi berkata:”Ia akan kembali lagi, maka intailah dia.” Maka aku pun mengintainya pada malam kedua, maka ia pun melakukan perbuatan yang sama, dan ia pun berjanji kepadaku tidak akan kembali, maka akupun melepaskannya. Kemudian di pagi hari aku mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam untuk mengabarkan hal tersebut, ternyata penyeru beliau memanggil:”Di mana Mu’adz?” Maka beliau bekata kepadaku:”Apa yang diperbuat oleh tawananmu?” Maka aku pun mengabarkannya kepada beliau. Beliau berkata:”Ia akan kembali lagi, maka intailah dia.” Maka aku pun mengintainya pada malam ketiga, maka ia pun melakukan perberbuatan yang sama. Maka aku pun berbuat yang sama. Dan aku berkata:”Wahai musuh Allah, engkau telah berjanji kepadaku dua kali, dan ini yang ketiga, sungguh aku akan melaporkanmu kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, lalu beliau membongkar kedokmu.” Maka ia pun berkata:”Aku adalah setan yang memiliki kelurga yang harus dinafkahi, dan tidaklah aku mendatangimu kecuali dari setan-setan yang kesusahan (dalam nafkah). Seandainya aku bisa mendapatkan makanan dari selain ini, maka tidak akan mendatangimu. Kami dari dulu tinggal di kotamu ini hingga diutuslah Shahabat kalian (maksudnya Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam-ed. Ketika diwahyukan kepadanya dua ayat, kalian membuat kami lari dari kota ini, maka terjatuhlah kami ke dalam kesusahan. Tidaklah kedua ayat ini dibaca di sebuah rumah melainkah setan tidak akan masuk ke dalamnya tiga kali. Maka jika engkau melepaskan aku, niscaya aku akan mengajarkannya kepadamu.” Aku berkata:”Ya.” Ia menjawab:”Ayat kursi dan akhir surat al-Baqarah yaitu firman Allah:"آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ"[البقرة آية 285] sampai akhir ayat.” Maka aku pun melepaskannya. Kemudian di pagi hari aku mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam untuk mengabarkan hal tersebut, ternyata penyeru beliau memanggil:”Di mana Mu’adz?” Maka ketika aku masuk ke rumah beliau, beliau bekata kepadaku:”Apa yang diperbuat oleh tawananmu?” Aku menjawab:”Ia berjanji kepadaku bahwa ia tidak akan kembali lagi. Lalu aku kabarkan kepada beliau apa yang dikatakan oleh setan itu” Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata kepadaku:”Si buruk itu telah jujur, padahal ia adalah sang pendusta.” Mu’adz berkata:”Maka aku membaca keduanya setelah itu, dan aku tidak mendapati lagi kekurangan pada kurma zakat tersebut.”
Hadits di atas diriwayatkan oleh Imam ath-Thabrani rahimahullah dalam al-Mu’jam al-Kabir, dan dibawakan juga oleh al-Haitsami rahimahullah dalam Majma’uz Zawa’id, dan beliau (al-Haitsami rahimahullah) berkata:”Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dari syaikhnya Yahya bin ‘Utsman bin Shalih dan ia adalah perawi yang shaduq Insya Allah, sebagaimana dikatakan oleh Imam adz-Dzahabi dan Ibnu Abi Hatim dan mereka telah memperbincangkannya. Dan perawi-perawi yang lain dinyatakan tsiqah oleh mereka.”
Sebenarnya masih ada beberapa hadits yang menceritakan kejadian yang mirip dengan dua kejadian di atas. Dia antaranya adalah kejadian yang menimpa Abu Usaid as-Sa’idi al-Khazraji radhiyallahu 'anhu sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam ath-Thabrani rahimahullah dalam al-Mu’jam al-Kabir, dan dibawakan juga oleh al-Haitsami rahimahullah dalam Majma’uz Zawa’id, dan beliau (al-Haitsami rahimahullah) berkata:”Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dan para perawinya tsiqah (kredibel) seluruhnya, namun sebagian mereka ada yang lemah.”
Demikian juga kejadian yang dikisahkah oleh anak Ubay bin Ka’ab radhiyallahu 'anhu dari bapaknya, bahwasanya beliau kedatangan jin yang berbentuk binatang melata seukuran anak remaja yang memiliki tangan dan berbulu seperti tangan dan bulu anjing, yang pada akhirnya makhluk tersebut mengajarkan kepada Ubay radhiyallahu 'anhu cara untuk melindungi diri dari gangguan jun, yaitu dengan membaca ayat Kursi pada pagi dan sore hari. Kisah tersebut diriwayatkan oleh Imam an-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra, hadits no.(10797), Imam ath-Thabrani rahimahullah al-Mu’jam al-Kabir hadits no.(542), Imam al-Haitsami rahimahullah dalam Majma’uz Zawa’id dan dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib hadits no.(662)
Demikian juga kejadian yang menimpa Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu 'anhu. Kisah tersebut diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi rahimahullah dalam Sunan-nya hadits no.(2880), Imam ath-Thahawi rahimahullah dalam Musykilatul Atsar hadits no.(666), Ibnul Atsir dalam Jami’ul Ushul min Ahaditsi Rasul, hadits no.(6250) dan dinyatakan shahih lighairihi oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib hadits no.(1469).
Maka dari sekumpulan hadits-hadits yang lalu, jelaslah bagi kita salah satu sisi dari beberapa sisi keagungan ayat yang mulia ini. Ayat ini akan menjadi benteng yang kuat bagi pembacanya, dan ia juga pemelihara keamanan untuk rumah yang dibacakan di dalamnya, setan tidak akan memasukinya. Oleh karena itu, hendaknya setiap muslim mebiasakan diri mebacanya pada pagi dan sore hari, dan ketika hendak tidur, supaya Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan Malaikat untuk menjaganya pada pagi dan sore hari, pada waktu tidur.
Ayat Kursi Ayat Yang Paling Agung Dalam Al-Qur’an
Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullah dalam Shahihnya dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu 'anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
يا أبا المنذر: أتدرى أى آية من كتاب الله أعظم؟ قال : قلت : الله ورسوله أعلم ، قال يا أبا المنذر أتدرى أى آية من كتاب الله معك أعظم ؟ قال قلت (الله لا إله إلا هو الحى القيوم ) قال فضرب بصدرى وقال والله ليهنك العلم أبا المنذر
”Wahai Abul Mundzir, tahukah kamu ayat apakah yang paling agung dalam Kitabullah (al-Qur’an)? Aku berkata:”Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata lagi:”Wahai Abul Mundzir, tahukah kamu ayat apakah yang ada padamu dari Kitabullah (al-Qur’an) yang paling agung?” Ubay menjawab:”Aku katakan:”(الله لا إله إلا هو الحى القيوم ) ”Ubay berkata lagi:” lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menepuk dadaku dan berkata:”Semoga ilmu menyenangkanmu (Do’a dari Nabi semoga Ubay mudah mendapatkan ilmu).”
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya, kitab Shalatul Musafirin bab Fadhlu Shuratil Kahfi wa Aayatil Kursi hadits no. 810 shahih Muslim dengan tahqiq Muhammad Fuad ‘Abdul Baqi 1/556, Shahih Muslim bi Syarh an-Nawawi 6/96, al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, al-Hakim dalam al-Mustadrak, Imam Ahmad dalam Musnad, Abu ‘Awanah dalam al-Mustakhraj dan lain-lain.
Terkandung Dalam Ayat Kursi Nama Allah Yang Paling Agung
Imam Ahmad dalam Musnadnya meriwayatkan dari Asma bintu Yazid radhiyallahu 'anha, ia berkata:”Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda tentang kedua ayat ini: الم اللّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَالْحَيُّ الْقَيُّوم (Ali Imran ayat 1-2)dan اللّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَالْحَيُّ الْقَيُّوم (ayat Kursi)
إن فيهما اسم الله الأعظم .
”Sesungguhnya dalam kedua ayat ini ada nama Allah yang paling agung.” (HR. Imam Ahmad rahimahullah dalam Musnad, namun sanad didha’ifkan oleh Syaikh Syu’aib al-Arna’uth rahimahullah)
Syaikh Ahmad bin ‘Abdurrahman al-Bana as-Sa’ati rahimahullah dalam al-Fathu ar-Rabbani berkata:”Diambil faidah dari hadits ini bahwa nama Allah yang paling agung adalah اللّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَالْحَيُّ الْقَيُّوم .”
Imam al-Hakimrahimahullah dalam al-Mustdrak meriwayatkan dengan sanadnya dari al-Qasim bin ‘Abdurrahman dari Abi Umamah radhiyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda:
( إن اسم الله الأعظم لفي ثلاث سور : سورة البقرة وآل عمران وطه )
Sesungguhnya nama Allah yang paling agung ada di dalam tiga surat al-Qur’an; al-Baqarah, Ali-’Imraan dan Thaha.”
Al-Qasim rahimahullah berkata:”Lalu aku mencarinya, maka aku mendapatinya di surat al-Baqarah ayat Kursi
اللّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُو الْحَيُّ الْقَيُّوم
”Allah tidak ada Ilah yang hak melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya).” (QS. Al-Baqarah: 255)
Dan di surat Ali-‘Imraan, firman Allah:
الم اللّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُو الْحَيُّ الْقَيُّوم ;
”Alif laam miim. Allah, tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya.”(QS. Ali-‘Imraan: 1-2)
Dan di surat Thaha, firman Allah:
وَعَنَتِ الْوُجُوهُ لِلْحَيِّ الْقَيُّومِ وَقَدْ خَابَ مَنْ حَمَلَ ظُلْمًا
”Dan tunduklah semua muka (dengan berendah diri) kepada Yang Hidup Kekal lagi senantiasa mengurus (makhluk-Nya). Dan sesungguhnya telah merugilah orang yang telah melakukan kezaliman.”(QS. Thaha: 111)
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Hakim dalam al-Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain hadits no. 1866, dan juga hadits yang semakna diriwayatkan oleh ath-Thahawi dalam Musykilatul Atsar.
Ayat Kursi Adalah Penghulu Ayat-ayat Yang Ada Dalam Al-Qur’an
Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata:”Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam bersabda:
لكل شيئ سنام وسنام القرآن سورة البقرة وفيها آية هي سيدة آي القرآن ، هي آية الكرسي ).
Segala sesuatu memiliki puncak dan puncaknya al-Qur’an adalah surat al-Baqarah
dan di dalamnya ada ayat yang ia adalah penghulu ayat-ayat yang ada dalam al-Quran;
yaitu ayat Kursi.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Hakim dalam al-Mustadrak, Musnad a-Humaidi
no. 994 dan ‘Abdurrazak dalam Mushannaf no. 6019
Pembaca Ayat Kursi Setiap Selesai Shalat Termasuk Ahli Surga
Imam ath-Thabrani, an-Nasaa’i, Ibnu Hibban, Ibnu Sunni rahimahumullahdan lainnya meriwayatkan dari Abu Umamah radhiyallahu 'anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda,
من قرأ آية الكرسي دبر كل صلاة مكتوبة لم يمنعه من دخول الجنة إلا أن يموت )
”Barang siapa membaca ayat Kursi setiap selesai shalat wajib, niscaya tidak ada yang menghalangi dia masuk Surga selain kematian.”
Hadits ini dibawakan pula oleh Imam a-Suyuthi rahimahullah di dalam Jami’il Ahadits dan dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shahih al-Jami’i ash-Shaghir hadits no. 6464
(Sumber: Diringkas dan diterjemahkan dari المنهل القدسي في فضائل آية الكرسي , karya Ahmad Muhammad asy-Syarqawi. Diposting oleh Abu Yusuf Sujono)
Popular Posts
-
Nabi Muhammad SAW sering mengutarakan dalam doanya agar selalu terhindar dari sifat malas, berikut beberapa tips yang bisa dilakukan agar ti...
-
“Wahai Amirul mukminin, apakah yang wajib kita ikuti itu Kitab Allah ataukah ucapanmu?” seorang wanita dengan penuh keberanian melontarkan p...
-
Sebuah nasyid yang menggetarkan hati kita. Membuat semangat jiwa kita kembali berkobar!!! Saatnya kita mempunyai koleksi nasyid yang seperti...
-
Setiap orang tua muslim pasti ingin memiliki anak-anak yang hafal Al-Qur'an dan berprestasi. Apalagi para kader dakwah yang sangat men...
-
A. Sahkah shalat (bagi Imam atau bagi yang shalat Sendiri) tanpa membaca Al Fatihah? Golongan pertama mengatakan sah, walau membaca s...
-
ZILZAAL: YAHUDI MELEMAHKAN DENGAN ROKOK : Yahudi adalah bangsa picik yang memang jahat. Ditengah Yahudi menjadi aktor produsen asap memat...
-
Berikut ini adalah link shirah Umar Bin Khattab. Silahkan Download melalui link ini. Semoga Bermanfaat Umar bin Khattab 01 (16 votes...
-
Selaksa keagungan cinta mulai mempersatukan dua hati. Terdengarlah keajaiban cinta menuntut segalanya. Menuntut para insan untuk bisa bahagi...
-
Berikut ini adalah kulwit admin @ RumahQuran_BU tentang kegiatan Buka bersama dan Santunan bersama anak yatim yang dilaksanakan pada har...



